Petinggi Bea Cukai Purwakarta dilaporkan ke KPK miliki harta fantastis senilai Rp 60 miliar diduga bagian dari tindak pidana korupsi

Petinggi Bea Cukai Purwakarta dilaporkan ke KPK miliki harta fantastis senilai Rp 60 miliar diduga bagian dari tindak pidana korupsi

LOMBOK , - Baru-baru ini pengacara dari Eternity Global Law Firm, Andreas memberikan klarifikasi kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan harta yang fantastis yang dimiliki oleh salah satu petinggi Bea Cukai Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (3/5/2024).

Dalam klarifikasinya itu, Andreas mengatakan khawatir ada keterlibatan kliennya, Wijanto Tirtasana dalam aliran dana yang dimiliki oleh oknum Bea Cukai tersebut karena  sebelumnya memiliki bisnis bersama.

Andreas bersama rekan Advokad bermaksud mengklarifikasi kepada KPK atas laporan yang sebelumnya telah dilaporkan atas dugaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) kepada oknum Bea cukai atau sekarang menjadi kepala Bea Cukai Purwakarta, Jawa Barat.

Menurut Andreas, terlapor yang diketahui berisial REH itu, pada data e-LHKPN tahun 2017 memiliki harta sebanyak Rp 3,5 milyar, harta tersebut naik signifikan yaitu pada LHKPN tahun 2021 bertambah menjadi Rp 5,6 milyar.

Lebih lanjut Andreas mengatakan pada tahun 2017 hingga 2022, kliennya telah bekerja sama bisnis bersama REH.

Pada saat itu, berdasarkan surat kesepatakan kejasama terlapor mengaku sebagai karyawan swasta Aparatur Sipil Negara (ASN).

"Klien kami sebelumnya berbisnis dengan oknum yang dibela cukai itu dan berhutang sebesar 7 milyar rupiah dan telah dibayar. Tetapi justru klien kami di intimidasi dengan aparat militer untuk mengakui jika hutang tersebut belum diselwsaikan dan justru nilainya semakin banyak," kata Andreas kepada awak media usai klarifikasi di gedung KPK Jakarta, pada Minggu (5/5/2024).

Berdasarkan hal tersebut, Andreas mengkhawatirkan jika bisnis yang dilakukan kliennya bagian dari tindak pidana korupsi kepada oknum Bea Cukai tersebut.

Lantaran harta yang dimiliki oknum Bea Cukai REH naik dengan signifikan, bahkan menurut penelusuran aset yang dimiliki REH sebesar Rp 60 miliar.

Andreas menambahkan upaya intimidasi yang dilakukan terlapor dan harta yang fantastis terlapor, padahal hanya merupakan seorang pegawai Bea Cukai.

Ia pun telah melaporkan terlapor ke beberapa pihak termasuk ke Kementerian Keuangan dan Direktorat Bea Cukai.

Segala upaya menurut Andreas sudah dilakukan termasuk menyurati Kemenkeu tetapi belum ada balasan. ***

(Sekarmayang)