Lewat Kata-Kata”, Prancis dan Indonesia Rayakan Persahabatan Melalui Sastra dan Terjemahan
JAKARTA — Kedutaan Besar Prancis dan Institut français d’Indonésie (IFI) kembali menghadirkan program budaya yang menghubungkan dua bangsa lewat kekuatan literasi. Setelah sukses menggelar Penghargaan Sastra Berbahasa Prancis “Ayo Baca!”* di Makarya Gramedia Matraman dan meluncurkan Bibliothèque Mobile (BiMo) atau perpustakaan keliling di berbagai kota di Jawa, IFI kini melanjutkan perjalanannya dengan acara bertajuk “Par les mots – Lewat Kata-kata” pada 13 November 2025 di IFI Thamrin, Jakarta.
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian program nasional *Ayo Baca!* yang pertama kali diluncurkan oleh Menteri Kebudayaan Prancis **Rachida Dati**, bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis **Emmanuel Macron** ke Indonesia pada Mei lalu. Inisiatif ini juga dihadiri oleh sastrawan ternama **Laksmi Pamuntjak**, yang menjadi salah satu wajah utama kerja sama literasi Prancis-Indonesia.
Melalui *Ayo Baca!*, kedua negara berupaya memperkuat pertukaran budaya di bidang literasi, memperluas jejaring penerjemahan karya sastra, dan menumbuhkan kecintaan membaca di kalangan generasi muda. Program ini menjadi wujud nyata implementasi **Deklarasi Borobudur**, hasil kesepakatan budaya antara Macron dan Presiden **Prabowo Subianto**. Komitmen itu kemudian diterjemahkan ke dalam *roadmap* kerja sama kebudayaan yang ditandatangani di Paris pada Juli lalu, di bawah koordinasi para menteri kebudayaan dari kedua negara.
Prancis, yang dikenal memiliki tradisi sastra panjang dan masyarakat pembaca yang tinggi—menempati peringkat keempat dunia menurut *CEOWORLD Magazine*—menjadi mitra strategis dalam membangun budaya baca lintas negara. Melalui *Ayo Baca!*, IFI ingin menghidupkan rasa ingin tahu pembaca muda Indonesia terhadap karya-karya kontemporer Prancis sekaligus memperkuat jembatan sastra antara kedua budaya.
Bagian ketiga program ini, **“Par les mots – Lewat Kata-kata”**, mengangkat tema besar sastra dan seni penerjemahan. Selama satu hari penuh, IFI Thamrin menjadi ruang pertemuan ide di mana pembaca, penulis, penerjemah, dan penerbit saling berbagi pandangan tentang makna menulis, menerjemahkan, serta menghidupkan kembali karya sastra di tengah dinamika global.
Nama-nama besar dunia sastra Indonesia seperti **Leila S. Chudori**, **Kanti W. Janis**, dan **Laksmi Pamuntjak** ikut berbagi pengalaman dalam diskusi bertema “Perempuan dan Sastra Kontemporer”. Sementara dari dunia penerbitan, hadir **Gramedia Pustaka Utama**, mitra utama yang turut mendukung penerjemahan dua karya sastra Prancis tahun ini bersama penerbit Denoël dan penulis **Nuril Basri**, yang baru saja mengikuti program residensi *KOTA* di Paris.
Dari sisi penerjemahan, IFI bekerja sama dengan **Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI)**, menghadirkan dua lokakarya interaktif bersama **Dr. Safrina Norman, M.A.** dan **Isadora Fichou** dari INALCO Paris. Peserta diajak memahami keindahan dan tantangan di balik proses menerjemahkan karya sastra lintas bahasa.
Rangkaian kegiatan ini juga dimeriahkan oleh sesi *Puisi on the Spot*, lokakarya puisi multibahasa yang dipandu oleh sejumlah tokoh sastra seperti **Debra H. Yatim**, **Anton Kurnia**, **Lucia Aryani**, dan **Kurnia Effendi**.
Melalui “Lewat Kata-kata”, IFI ingin menegaskan bahwa sastra bukan sekadar teks—ia adalah ruang pertemuan gagasan, emosi, dan imajinasi antarbangsa. Di tengah dunia yang serba cepat, program ini mengingatkan kita bahwa lewat kata-kata, jembatan budaya bisa dibangun, dan persahabatan bisa terus ditulis ulang.(wn/Hera)

